BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Alergi merupakan salah
satu jenis penyakit yang banyak dijumpai di masyarakat. Umumnya masyarakat
menganggap bahwa penyakit alergi hanya terbatas pada gatal-gatal di kulit.
Alergi sebenarnya dapat terjadi pada semua bagian tubuh, tergantung pada tempat
terjadinya reaksi alergi tersebut. Alergi merupakan manifestasi hiperresponsif
dari organ yang terkena seperti kulit, hidung, telinga, paru, atau saluran
pencernaan. Pada hidung gejala alergi yang timbul berupa pilek; pada paru-paru
berupa asma; pada kulit berupa urtikaria/biduran, eksema, serta dermatitis
atopik; sedangkan pada mata berupa konjungtivitis. Gejala hiperresponsif ini
dapat terjadi karena timbulnya respon imun dengan atau tanpa diperantarai oleh
IgE. Pada studi populasi, penyakit alergi dapat timbul pada usia yang
berbeda-beda, seperti alergi makanan dan eksim terutama pada anak-anak, asma
didapatkan pada anak dan dewasa, dan rinitis alergika didapatkan pada dekade
kedua dan ketiga.
Di Indonesia,
prevalensi alergi pada anak-anak dan dewasa cukup tinggi. Penyakit alergi akan
timbul pada individu yang mempunyai kecenderungan yang didasari faktor genetik,
yang biasanya diwariskan dari kedua orangtua. Bila kedua orangtua menderita
alergi kemungkinan anak menunjukkan gejala alergi sekitar 50%, namun bila hanya
salah satu yang menderita alergi kemungkinannya hanya 25% (Alergi merupakan
kepekaan tubuh terhadap benda asing (alergen) di dalam tubuh. Reaksi setiap
individu terhadap alergen berbeda-beda, sehingga individu yang satu bisa lebih
peka daripada individu yang lain. Untuk mencegah reaksi alergi, selain
menghindari kontak dengan alergen, masyarakat banyak menggunakan obat kimiawi
karena menganggap obat kimiawi cepat menyembuhkan serta mudah diperoleh.
Seiring dengan timbulnya kesadaran akan dampak buruk produk-produk kimiawi,
timbul pula kesadaran akan pentingnya kembali ke alam (back to nature).
Masyarakat mulai beralih pada pengobatan alami dengan menggunakan berbagai
tanaman obat dalam mengobati penyakit alergi.
1.2
Rumusan Masalah
1.
Mekanisme alergi
makanan Immune-mediated
2.
Manifestasi
alergi makanan
3.
Makanan yang
menyebabkan alergi dan karakteristiknya
4.
Factor yang
berpengaruh terhadap kerentanan terhadap alergi makanan
1.3
Tujuan
1.
Mengetahui apa
yang dimaksud dengan mekanisme alergi makanan Immune-mediated
2.
Mengetahui
bagaimana manifestasi alergi makanan
3.
Mengetahui apa
saja makanan yang menyebabkan alergi dan karakteristiknya
4.
Mengetahui apa
saja factor yang berpengaruh terhadap kerentanan terhadap alergi makanan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Mekanisme Alergi Makanan Immune-Mediated
Respon imun adalah
respon yang ditimbulkan dari sel-sel dan molekul penyusun system imunitas
terhadap substansi asing (antigen), dapat juga diartikan sebagai respon tubuh
dalam urutan tahap yang kompleks untuk mengeliminasi antigen yang melibatkan
berbagai macam sel dan protein terutama sel markofag, sel limfosit, komplemen dan sitonin yang saling
berinteraksi. Secara mekanisme pertahanan tubuh terbagi menjadi dua yaitu :
A.
Respon Imun
Spesifik
Diperantai
oleh antibody (Humoral), sel (seluler) atau keduanya.
1.
Antibody-
mediated immunity (Respon Imun Humoral)
Respon
imun ini diperantai oleh anti-bodi yang dihasilkan oleh sel limfosit B.
Bila sel limfosit B dirangsang oleh
antigen maka sel limfosit B akan menghasilkan antibody. Fungsinya untuk
mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virus dan dapat menetralkan
toksin dalam respon humoral terdapat respon imun primer dan sekunder. Respon
imun primer adalah respon yang dilakukan saat pathogen pertama kali masuk ke
dalam tubuh kemudian tubuh akan membuat antibody untuk melawan pathogen
tersebut dan sel memor akan mengingat jenis pathogen tersebut, sedangkan respon
imun sekunder adalah respon imun terhadap pathogen yang masuk ke dalam tubuh
untuk kedua kalinya sehingga respon imun lebih cepat dalam melawan pathogen itu
karena pathogen tersebut sudah dikenali melalui sel-sel memori. Mekanisme
imunitas yang diperantarai oleh anti-bodi yaitu sebagai berikut saat pathogen
masuk kedalam tubuh, masing-masing
antigen mengaktifkan satu sel B. Sel B tersebut akan membelah membentuk
populasi sel yang besar semua klon sel tersebut mensekresikan antibody yang
spesifk terhadap pathogen yang menyerang setelah infeksi berakhir, sel B yang
mensekresikan antibodi akan mati sedangkan sel B memori telah mengingat
pathogen yang menginfeksi dan sel B akan bertahan.
Antibodi
tersusun atas suatu serum globulin yang di sebut Immunoglobulin (Ig). Terdapat 5 jenis Immunoglobulin.
a.
IgM, memiliki
berat molekul yang besar. Sebagai antibody utama terhadap bakteri, sebagai
aglutinator dan pembentuk opsonin
b.
IgG, merupakan
antibody dominan pada respon sekunder dan menyusun pertahanan yang penting
melawan bakteri dan virus. Satu-satunya antibody yang mampu melintas plasenta,
oleh karena itu paling banyak ditemukan pada bayi baru lahir.
c.
IgA, banyak
terdapat pada cairan sekresi membrane mukosa dan serosa. Dapat melindungi
membrane seromukosa dari serangan bakteri dan virus.
d.
IgD, berfungsi
untuk merangsang pembentukan antibody oleh sel plasma, kemungkinan bertindak
sebagai reseptor pada membrane sel
e.
IgE, merespon
alergi. Ketika dipicu oleh antigen, akan menyebabkan sel membebaskan histamine
dan zat kimia lainnya yang menyebabkan reaksi alergi.
2.
Cell- mediated
Immunity (Respon Imun Seluler)
Respon
imun yang melibatkan sel limfosit T yang menyerang langsunng antigen.
Sekelompok T-limfosit tertentu dalam jaringan akan berkembang dan berdeferensu
menjadi beberapa subpopulasi. Sub populasi tersebut adalah
a.
Sel T pembantu
(Helper-T4) berfungsi untuk menghasilkan interleukin-2 yang menyebabkan sel T
pembunuh lebih cepat berkembang baik dan T4 badan yang dihasilkan sangat
diperlukan oleh limfosit B untuk memproduksi antibody
b.
Sel T pembunuh
(Killer) berfungsi untuk menghancurkan antigen secara langsung dengan mengikat
diri dengan antigen membran pada mikroorganisme, kemudian mensekresikan suatu
zat limfotoksin dan menghasilkan suatu protein limfokin.
c.
Sel T supresor
(T8) berfungsi untuk mengurangi produksi antibody oleh sel plasma dengan cara
menghambat aktivitas T4 atau sel plasma serta mengurangi keaktifan dari sel T
pembunuh
d.
Sel T memori
berfungs untuk mengingat antigen yang telah masuk ke dalam tubuh. Jika nanti
antigen masuk untuk kedua kalinya, akan terjadi respon sekunder yag lebih cepat
dan lebih kuat.
B.
Respon Imun
Non-Spesifik
1.
Pertahanan
Mekanis
Kulit
yang utuh tidak dapat ditempus oleh mikroorganisme karena epidermis dari
berbagai lapisan. Apabila kulit tergores atau lembab maka infeksi bakteri atau
jamur akan lebih mudah terjad. Meskipun selaput lendir (membrane mukosa)
terdiri dari satu lapis tapi sulit ditembus oleh mikroorganisme karena selaput
lender akan mensekresi lender (mukosa yang lengket dan akan menangkap
miroorganisme).
2.
Pertahanan
Kimiawi
Suasana
asam di kulit akan mengurangi pertumbuhan mikroorganisme. Asam lambung dapat
membunuh berbagai macam mikroorganisme dan melumpuhkan toksin. Flora
mikroorganisme yang normal di kulit dan
selaput lender menekan pertumbuhan pathogen.
3.
Sistem Komplemen
Termasuk
protein serum dan protein yang terikat membrane yang berfungs baik dalam system
imun yang didapat maupun imunitas alamiah. Mempunyai pengaruh yaitu melisis
sel, produksi mediator yang berperan dalam inflamasi dan menarik fagosit,
penguatan respon imun yang diperantai antibody.
4.
Interferon
Sekumpulan
protein yang diproduksi dan disekresikan sejumlah sel misalnya makrofag,
limfosit yang terkena infeksi berbagai virus. Dapat merangsang jenis limfosit
tertentu untuk langsung membunuh dan menghancurkan sel-sel yang terinfeksi
virus, juga sel-sel kanker jenis tertentu.
5.
Fagositosis
Sel
yang termasuk sel fagosit yaitu makrofag, neutrophil, dan eosinophil. Mekanisme
fagositosis yaitu mikroba menempelke fagosit, fagosit membentuk pseudopodium
yang menelan mikroba vesikula fagositik yang mengandung antigen vesikula
fagositik bersatu dengan lisoson terjadi fagolisosom dengan enzim hydrolase
asam mikroba dibunuh oleh enzim dalam fagolisosom sisa mikrob dikeluarkan lewat
eksositosis.
6.
Demam
Suatu
keadaan dimana suhu tidak normal. Merupakan salah satu menifestasi sistemasik
tubuh terhadap radang.
7.
Radang
Infeksi dalam masuk
dan berkembangnya mikroorganisme di dalam tubuh, karena racun yang dikeluarkan
oleh mikroorganisme, infeksi dapat menimbulkan kerusakan sel-sel tubuh. Respon
terhadap kerusakan tersebut disebut radang. Gejala dari radang seperti panas,
bengkak, merah dan gangguang fungsi daerah yang terkena radang.
2.2 Manifestasi Alergi
Makanan
Secara umum, istilah
alergi dipakai dalam konteks reaksi hipersensitivitas yang disebabkan oleh
reaksi imun yang berakibat buruk terhadap jaringan atau mengganggu proses
fisiologik manusia. Reaksi imun tersebut dicetuskan oleh adanya kompleks
biokimawi atau respon inflamasi yang menghasilkan gejala klinis. Respons
tersebut bergantung pada tingkat reaktivitas reseptor jaringan yang terlibat
dan sel efektor.
v Jenis Alergi Makan Berdasarkan Manifestasi Klinis
Alergi makanan dapat
dibedakan menjadi dua jenis yaitu, dengan keterlibatkan (diperantarai) IgE,
yang secara klinis dikenal sebagai alergi makanan jenis tetap (fixed atau
immediate tipe) dan tanpa keterlibatan (tidak diperantrai) IgE, yang secara
klinis dikenal sebagai alergi makanan jenis siklik atau cyclic atau delayed
tipe. Alergi jenis makanan tetap yaitu alergi makanan jenis ini melibatkan
respons IgE yang memberikan gejala dalam waktu beberapa detik sampai beberapa
jam setelah kontak dengan alergen. Reaksi yang timbul cepat, jelas, dan
seringkali berat. Apabila terjadi sensivitasi, gejala akan selalu timbul jika
individu tersebut terpajan alergen yang sama. Gejala yang timbul tidak
ditentukan oleh kuantitas makanan yang dikonsumsi; jumlah alergen yang minimal
sekalipun dapat menimbulkan gejala. Alergi makanan jenis iklik tipe ini pertama
kali ditemukan oleh rinkle, berdasarkan pengamatan klinis terhadap hasil
pengaturan diet makanan pada penderita alergi. Pada jenis ini, gejala dapat
timbul beberapa jam sampai beberapa hari setelah mengonsumsi makanan. Jenis ini
tidak melibatkan IgE dan mewakili 60-80% dari seluruh kasus alergi makanan yang
ditemukan dalam klinik sementara itu, boyles menyatakan bahwa 95% kasus alergi
makanan tergolong jenis siklik dan sisanya jenis tetap.
v Manifestasi Alergi Makanan Pada Hidung, Telinga Dan
Tenggorokan
Manifestasi alergi
makanan tipe tetap (diperantarai IgE) dapat bermacam-macam, bergantung pada
tempat dan luas degranulasi sel mast atau basofil, mulai dari urtikaria akut
sampai reaksi anafilaktik yang fatal. Target organ yang sering terkena adalah
kulit, saluran cerna, saluran napas atas (telinga, hidung, dan tenggorokan) dan
bawa ,secara reaksi sistemik.
- Telinga
Manifestasi alergi makanan pada telinga dapat mengenai
tiga daerah anatomis telinga, yaitu
liang telinga, telinga tengah, dan telinga dalam. Gejala pada telinga luar
dapat berupa otitis eksterna kronik dengan penyempitan liang telinga, daun
telinga yang kemerahan, atau kulit daun telinga yang terkupas dan pecah-pecah. Pada
telinga tengah, sering didapati keluhan rasa penuh, terdengar bunyi “klik”,
atau keluhan yang disebabkan oleh terganggunya Eustachian tube, seperti otitis
media rekuren, otitis media serosa kronik, atau otorea yang persisten setelah
pemasangan pipa ventilasi pada telinga tengah. Gejala pada telinga dalam dapat
meliputi tinnitus, penyakit meniere, dan gangguan keseimbangan, yang muncul
hampir selalu persamaan dengan keluhan rintis kronik.
- Hidung
Manifestasi alergi makanan pada hidung yang
tersering adalah rintis alergi, yang dijumpai pada 70% anak penderita alergi
makanan yang telah terbukti dengan tes provokasi makanan (double-blind placebo
controlled food challenge, DBPCFC). Sebagian besar dari anak-anak tersebut juga
menderita penyakit alergi lain, seperti alergi pada kulit dan saluran cerna.
Gejala yang sering ditemukan berupa hidung tesumbat, secret yang jernih dan
encer, hidung gatal, bersin-bersin, serta menurunnya ketajaman penciuman. Tidak
jarang pula dijumpai allergic salute, rasa penuh pada wajah dan sakit kepala
akibat sinusitis, dan dapat juga berhubungan
dengan polip nasi, sinusisitis akibat jamur, atau infeksi sinus yang
berulang.
-
Rongga mulut
Keluhan yang umum dijumpai berupa rasa gatal dan
bengkak pada bibir dan palatum, mulut terasa kering, dan halitosis. Bernafas
lewat mulut terusmenerus akibat obstruksi hidung yang menetap karena alergi
dapat mengakibatkan hipertrofi gingival serta bibir kering dan pecah-pecah.
-
Laringofaring
Dapat ditemukan keluhan suara serak yang hilang
timbul, faringitis kronik, atau rasa ingin selalu membersikan tenggorokan
akibat secret hidung yang turun ke tenggorokan. Hal ini akan menimbulkan
hipertrofi kelenjar limfe submukosa pada dinging varing, yang disebut
cobblestone.Pada daerah laring dapat dijumpai edema epiglotis dan pita suara
yang pucat disertai sekret yang lengket dan kental. Juga dapat dijumpai nodul
pita suara, polip, atau edema reinke.
2.3 Makanan Yang Menyebabkan Alergi Dan Karakteristiknya
Banyak jenis makanan menyebabka alergi, tetapi 90%
alergi disebabkan oleh susu sapi, kedelai, telur, gandum,kacang tanah,ikan, dan
crustacea/udang/rajungan/kepiting. Alergi makanan lainnya terjadi kurang dari 1
per 10.000 orang, dapat di anggap jarang.
Tingkat alergi berbeda antara dewasa dan anak-anak. Alergi kacang tanah
kadang-kadang berkembang pada masa anak-anak.
Alergi telur terjadi pada 1 hingga 2% anak-anak dan menjadi kira-kira 2/3anak-anak pada usia
5 tahun. Senstivitas biasanya terjadi terhadap putih telurnya dibandingkan
terhadap kuning telurnya.
Beberapa makanan sehari-hari yang dapat menyebabkan
alergi adalah :
*Susu Sapi
Fraksi protein susu utama ialah kasein (76%) dan
whey ( mengandung alfa-laktabumin, beta-laktoglobulin, albumen serum sapid an immunoglobulin sapi).
Semua komponen yang terdapat pada susu sapi itulah dapat menyebabkan reaksi
alergi.Sedangkan sedikitnya 20% komponen yang bias menimbulkan produksi
antibody. Alergi terhadap protein susu bukanlah reaksi Immunoglobulin
E,biasanya adalah proctocilitis. Banya
terjadi pada anak-anak. Beberapa orang tidak dapat mentoleransi susu kambing
maupun domba juga sapi, dan banyak juga yang tak dapat metoleransi hail-hasil
susu seperti keju. Sekitar 10% anak-anak yang alergi susu,juga alergi terhadap daging hewan berkaki empat.
*Telur
Dari beberapa jenis telur yang paling sering
menimbulkan reaksi energy pada anak ialah telur ayam. Di dalam telur mengandung
putih dan kuning telur. Alergen utama putih telur ialah ovalbumin. Putih telur
lebih alergenik serta alergen dari pada kuning telurdan reaksi terhadap kuning
telur bias di sebabkan oleh karena kontaminasi proten.
2.4 Factor Yang Berpengaruh
Terhadap Kerentanan Terhadap Alergi Makanan
Kejadian alergi makanan dipengaruhi oleh genetik,
umur, jenis kelamin, pola makan, jenis makanan awal, jenis makanan, dan faktor
lingkungan. Penyakit alergi merupakan gangguan kronik yang umum terjadi pada
anak-anak dan dewasa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilaporkan oleh Oehling
et al. dalam Prawirohartono pada 400 anak umur 3-12 tahun didapatkan data bahwa
60% penderita alergi makanan adalah perempuan dan 40% laki-laki. Pola makan
(eating habits) juga memberi pengaruh terhadap reaksi tubuh. Prevalensi alergi
makanan di Indonesia adalah 11%.1Prevalensi alergi makanan yang kecil ini dapat
terjadi karena masih banyak masyarakat yang tidak melakukan tes alergi untuk
memastikan apakah mereka positif alergi makanan atau tidak. Persepsi mereka,
jika setelah makan makanan tertentu (telur, kepiting, udang, dan lain-lain)
mereka merasa gatal-gatal, maka mereka menganggap bahwa mereka alergi terhadap
makanan itu sehingga data yang ada tidak cukup mewakili. Disamping itu, tempat
untuk melakukan tes alergi masih’ belum banyak ditemukan.
·
Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya
Alergi Adalah Penyebab Dan Pemicu Alergi
ü Faktor
genetik
Alergi dapat diturunkan
dari orang tua atau kakek/nenek pada penderita . Bila ada orang tua, keluarga
atau kakek/nenek yang menederita alergi kita harus mewaspadai tanda alergi pada
anak sejak dini. Bila ada salah satu orang tua yang menderita gejala alergi
maka dapat menurunkan resiko pada anak sekitar 17 – 40%,. Bila ke dua orang tua
alergi maka resiko pada anak meningkat menjadi 53 – 70%. Untuk mengetahui
resiko alergi pada anak kita harus mengetahui bagaimana gejala alergi pada
orang dewasa. Gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai semua organ
tubuh dan sistem fungsi tubuh.
ü Imaturitas
usus (KETIDAKMATANGAN USUS).
Secara mekanik integritas mukosa usus dan
peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen ke dalam tubuh. Secara kimiawi
asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi allergen.Secara
imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat
menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur system pertahanan
tubuh tersebut masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen
masuk ke dalam tubuh.
ü Pajanan
alergi
Pajanan alergi yang
merangsang produksi IgE spesifik sudah dapat terjadi sejak bayi dalam
kandungan. Diketahui adanya IgE spesifik pada janin terhadap penisilin, gandum,
telur dan susu. Pajanan juga terjadi pada masa bayi. Pemberian ASI eksklusif
mengurangi jumlah bayi yang hipersensitif terhadap makanan pada tahun pertama
kehidupan. Pemberian PASI meningkatkan angka kejadian alergi
ü Faktor
pencetus
dapat berupa faktor
fisik seperti dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan
tertawa, menangis, berlari,olahraga.
ü Faktor
gangguan kesimbangan hormonal
Berpengaruh sebagai pemicu alergi
biasanya terjadi saat kehamilan dan menstruasi. Sehingga banyak ibu hamil
mengeluh batuk lama, gatal-gatal dan asma terjadi terus menerus selama
kehamilan. Demikian juga saat mentruasi seringkali seorang wanita mengeluh
sakit kepala, nyeri perut dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
v Mekanisme Alergi Makanan Immune-Mediated terbagi
atas :
A.
Respon Imun
Spesifik
B.
Respon Imun
Non-Spesifik
v Manifestasi Alergi Makanan terdir atas :
1.
Jenis Alergi
Makan Berdasarkan Manifestasi Klinis
2.
Manifestasi
Alergi Makanan Pada Hidung, Telinga Dan Tenggorokan
v Makanan Yang
Menyebabkan Alergi Dan Karakteristiknya adalah :
*Susu
Sapi * Mulluscum &
crustacean
*Telur *Kacang Tanah
*Daging *Tree nuts
*Kedelai *Biji-bijian
v Factor Yang Berpengaruh Terhadap Kerentanan Terhadap
Alergi Makanan
-Faktor
genetic -Faktor Psikis
-Imaturitas
usus (KETIDAKMATANGAN USUS)
-
Pajanan alergi -Faktor
gangguang keseimbangan humoral
-Faktor
pencetu
3.2 Saran
Makalah
ini membahas tentang Alergi Makanan yang merupakan salah satu materi dari mata
kuliah Imunologi Gizi, di harapkan setelah membaca makalah ini mahasiswa dapat
memahami tentang alergi makanan dalam mata kuliah imunologi gizi.
DAFTAR PUSTAKA
(http://www.perbidkes.com/2015/09/makanan-penyebab-alergi-yang-wajib-di.html?m=1) Diakses pada
tanggal 26-10-2016
(http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/36088314/797-1617-1-SM.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAJ56TQJRTWSMTNPEA&Expires=1477397533&Signature=fc1PHMY8NEhfUElk6NSY1LE4%2FZ4%3D&response-content-disposition=inline%3B%20filename%3DGAMBARAN_SENSITIVITAS_TERHADAP_ALERGEN
M.pdf) Diakses pada
tanggal 26-10-2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar